Wahai “Sang Penyejuk Hati”
Pelengkap Kasih Tulus Sang Ibu
Artikan Hidupku Yang Sementara Ini
Bawalah Resahku Ke Langit Yang Biru
Tukarkanlah Dengan Segenggam Awan
Karena Air Mata Ini Ingin Kuikhlaskan
Bukan Hanya Karena Kehilangan Kawan
Tapi Mengganti Do’aku Yang Tersisihkan
Dimana Saja Kakiku Mencium Bumi
Jangan Biarkan Kuinjak – Injak Asmara
Karena Tak Ada Payung Yang Kumiliki
Yang Bisa Menahan Derai Hujan Luka
Sampaikan Pula Salamku Yang Terbang
Jangan Tepis Diantara Waktu Yang Padat
Karena Kutakut Diwaktu Yang Senggang
Dia Akan Merindukanku Didalam Ingat
Biarkan Juga Tinta Hatiku Menjadi Puisi
Karena Ketika Aku Tak Bersamanya
Kuingin Diriku Tetap Terwakili
Biarlah Dia Dekap Puisiku Di Dadanya
Jika Semesta Hatiku Mendung Dan Hujan
Hanyutkan Semua Airnya Ke Samudra
Supaya Kerang – Kerang Kecil Bisa Ketahuan
Inilah Alir Jiwaku Yang Kadang Berkelana
Jika Hujannya Hanya Separuh Musim
Maka Sisakanlah Untukku Musim Semi
Ada Bunga Yang Tak Sempat Kukirim
Ingin Kutanam Sebelum Diriku Pergi
Ku Ingin Sempat Di Panggil Ayah Tercinta
Sebagai Tanda Lahirnya Keluarga Bahagia
Tapi Kumasih Mencari Istri Tersayang
Itu Tanda Dimulainya Cinta Yang Tenang
Aku Ingin Sebelum Melipat Sajadah
Aku Tinggalkan Nafsu Dan Amarah
Tapi Terkadang Aku Menjadi Lengah
Selalu Kuikat Antara Benar Dan Salah
Padahal Tak Ingin Kuingkari Yang Kusembah
Sejujurnya Diriku Memang Insan Yang Lemah
Semesta Hatiku Banyak Meniru Ciptaan-Nya
Dan Suatu Saat Akan Musnah Di Titah-Nya
Kalau Aku Sombong Setinggi Bintang Di Langit
Jatuhkanlah Aku Hingga Ke Dasar Samudera
Meski Hanya Kerang – Kerang Kecil Yang Mengigit
Tetap Kan Kuakui Dosa – Dosaku Apa Adanya
Tuhan . . .
Kaulah Yang Paling Tahu Semestaku Di Hati
By : Adji
Selasa, 29 Desember 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar