Rabu, 10 Juni 2009

DIMANA SUARA HATIKU

Tik . . . Tik . . . Tik
Itulah Suara Detik Jarum Jam
Cik . . . Cik . . . Cik
Itulah Gemercik Air Di Kolam

Ting . . . Ting . . . Ting
Aku Senang Bel – Bel Kecil Berdenting
Wusss . . . Wusss . . . Wusss
Aku Senang Angin Lembut Berhembus

Tapi . . .
Bagaimakah Suara Hatiku
Lagi . . .
Mestinya Aku Tak Lupa Itu

Mungkinkah Semerdu Kicauan Burung
Atau Seperti Gemuruh Letusan Gunung
Aku Coba Bediam Diri Dan Termenung
Ingin Kutangkap Suara Hati Terselubung

Tak Bisa Kugunakan Telinga Kanan Kiri
Ataupun Kuandalkan Otak Kanan Kiri
Harus Kudapati Dimanakah Suara Hati
Setelah Itu Mestinya Juga Aku Dengari

Suara Mulutku Sering Terpaksa Berdusta
Ketika Aku Pertahankan Nafsu Dan Goda
Aku Bertingkah Menahan Nilai Dan Norma
Dengan Pikiran Subyektif Semau Aku Suka

Pernahkah Jarum Jam Berdusta
Mengatakan Waktu Yang Dilaluinya
Pernahkah Gemercik Air Berbohong
Mendustai Hakikatnya Pada Kecebong

Pun Aku Harus Belajar Pada Bel Berdenting
Dia Berbunyi Karena Memang Ada Getaran
Tak Memandang Apakah Suaranya Penting
Karena Suaranya Tak Jadi Keras Lewat Pujian

Tapi Aku Berkata Walau Tak Mesti Berucap
Dan Aku Berjanji Dan Ingkar Cuma Sekejap
Aku Tak Sempat Dengar Suara Hati Terdalam
Akibatnya Nilai Minus Membuatku Tenggelam

Berjanji Tak Mesti Harus Dengan Sebuah Ikrar
Ketika Aku Merasa Diri Ini Selalu Yang Benar
Dan Ada Keteguhan Hati Yang Masih Longgar
Aku Ingkari Diri Sendiri Yang Merasa Benar

Kini Kudapat Cara Menangkap Suara Hati
Yang Telah Lama Aku Bingung Mencari
Kupelajari Ketika Orang Lain Berbuat Sepertiku
Meski Aku Menilai Dia Dengan Semua Egoku

Aku Melihat Jelas Orang Lain Itu Sudah Salah
Mereka Melayang Dengan Sayap Yang Patah
Mereka Sudah Merasa Tinggi Sampai Ke Bintang
Kulihat Jelas Kepalsuannya Dibayang Air Tenang

Kusadari Salahnya Orang Dari Tiap Tatapanku
Barangkali Begitu Orang Menilai Semua Diriku
Air Yang Tenang Juga Berkata Jujur Soal Diriku
Lihatkah Dirimu Sendiri Yang Juga Seperti Itu

Kutangkap Suara Hati Dengan Rasa Bersalah
Pahit Bagi Orang Lain Jadi Pahit Bagi Saya
Hakimi Dosa Sendiri Antara Benar Dan Salah
Itulah Saat Suara Hati Terdengar Sempurna

Akhirnya Suara Hati Lahir Bukan Dengan Kata
Dia Utuh Ketika Diwakilkan Lewat Air Mata
Sembari Dipayungi Semua Kesejukan Rasa
Dan Bersemayam Dalam Keheningan Suasana

Ternyata Suara Hatiku Telah Banyak Menangis
Kecewa Dengan Kesalahan Yang Tak Kutangkis
Padahal Suara Hatiku Sudah Menjerit Histeris
Ternyata Tuhan Punya Cara Yang Lebih Manis

JIKA KEBENARAN KALAH DIPERMULAAN, DIA PASTI AKAN MENANG DI PENGHUJUNG

By : Adji

0 komentar:

Posting Komentar