SELAYANG PANDANG
Sejak saya mulai tahu tentang internet, perlahan mulai muncul
keinginan untuk membuat website milik sendiri. Namun Keinginan itu tidak
semulus yang saya harapkan. Ada yang membuat saya harus berpikir lagi untuk
memutuskan lebih mantap agar supaya tidak tergugah dan berubah pikiran lagi
yakni memilih nama domain.
Awalnya terlintas untuk menggunakan nama pribadi namun apalah
artinya sebuah nama dibandingkan dengan “isinya” atau “konten”. Saat ini sudah sangat
banyak jenis – jenis website pribadi dengan segala konten didalamnya.
Sejujurnya saya sempat menyimpulan, jika ingin membuat sebuah website yang
benar – benar baru dan orisinil dari segi konten maka akan sangat rumit.
Betapapun rumitnya membuat website dengan konten orisinalnya,
akan kembali juga pada nama domain karena nama domain seperti “alamat rumah”. Orang
akan mudah mengunjungi sebuah rumah atau suatu tempat jika jelas alamatnya,
termasuk di dunia maya.
Akhirnya setelah sekian waktu berjalan, melihat berbagai
perkembangan dunia maya dan informasi, terlebih mulai maraknya muncul sarana
informasi dan komunikasi yang berlabel Social Media, kata SOSMED menjadi salah
satu pilihan terbaik sejauh ini.
F I L O S O F I
Meski mengambil kata SOSMED, tidak serta – merta saya membuat
website ini untuk menyaingi domain yang memang lahir dan tumbuh sebagai Social
Media seperti Facebook, Twitter dan lain sebagainya. Namun dari segi fungsi, maka
website ini akan mencoba memberikan hal serupa namun dalam konteks yang berbeda.
Dibalik Kata SOSMED
Kata Sosial Media jika merujuk pada tatanan Bahasa Indonesia sebenarnya
tidak dibenarkan. Yang benar dalam Media Sosial. Namun bisa diakui bahwa berawal
dari kata Social Media dalam Bahasa Inggris, lahirlah kata Sosmed yang sepertinya
merupakan “kependekan” dari kata Social Media namun ditulis dalam ejaan Bahasa
Indonesia.
Kata Sosmed inipun lebih mudah dan lebih ringan diucapkan dan
terdengar dikalangan pengguna internet khususnya yang sudah sangat familiar
dengan Social Media. Buktinya, jika kita mengetik kata “sosmed” sebagai kata
kunci pencarian di Google.com, sudah pasti akan merujuk pada Media Sosial yang
tidak lain adalah Facebook dan semacamnya. Dan sepertinya penggunaan kata
sosmed lebih memasyarakat daripada medsos bahkan di kalangan pers juga. Ada insan
pers yang menggunakan kata SOSMED dalam topik – topik pemberitaannya padahal
kalau mau dikaji, mereka sebenarnya yang lebih berhati – hati dalam menggunakan
kata dan kalimat disetiap pemberitaannya yang sudah pasti melalui proses
editing sesuai standarnya masing – masing.
Seorang penceramah yang namanya sudah terkenal yaitu Dr.
Zakir Naik, dalam salah satu ceramahnya dia berkata bahwa sekarang ini media memiliki
kekuatan yang bisa merubah putih terlihat menjadi hitam, siang terkesan menjadi
malam. Maka jika Media Sosial menjadi
Sosial Media adalah contoh kecil yang kena imbasnya.
Akan tetapi, saya tidak mengambil kata Sosmed semata hanya
melihat dari segi itu saja meskipun secara hukum alam dunia maya sudah “diterima”.
Kata sosmed atau sosial media yang ingin saya tunjukkan dan tujukan melalui
website ini adalah memberikan sesuatu yang benar – benar bersifat SOSIAL. Ini
tentunya akan sepenuhnya berbeda dari Sosial Media yang sekarang berkembang
dimana meskipun membawa kata Sosial namun unsur “Anti Sosial” juga ikut terbawa
– bawa. Sudah banyak bukti dimana konten “Anti-Sosial” menjadi bagian dari
media – media ini. Pornografi, pelecehan, pencemaran nama baik dan penipuan adalah
contohnya.
Jadi, ketika kata sosial media saya gunakan di website ini, bukanlah
Facebook, Twitter atau Instagram yang muncul dibenak melainkan “Nilai – Nilai Sosial”.
Dan inilah yang saya harapkan bisa tersalur menjadi sesuatu yang berbeda.
Tujuan Sosmed adalah
SOSMed
Bila diteliti, saya menuliskan Sosmed menjadi SOSMed. Kata
SOSMed ini mengandung makna yang lebih dalam karena memang akan menjadi tujuan
akhir setelah nilai – nilai sosial tersalur lewat media ini. Kata SOSMed
terdiri dari kata SOS dan Med ( Media ). Kata SOS ini adalah singkatan dari “Save Our Soul”, dalam terjemahan
bebasnya berarti “Selamatkan Jiwa Kita”.
Dengan demikian, nilai sosial yang tersalur diharapkan pula bisa menyelamatkan
jiwa kita melalui media ini.
Tujuan ini memang tidaklah mudah. Namun yang bisa saya yakini
ada banyak cara dan jalan untuk mewujudkan itu. Bila memang hanya sedikit cara
dan jalan yang bisa dilakukan, minimal satu ayat sudah disampaikan.






0 komentar:
Posting Komentar